Komidi Waktu
Oleh: Hana Juwita Nur Azizah
Tatapannya tetap tak berubah. Matanya masih merah terasa sendu. Kematian keluarganya menampar mental anak perempuan yang diam-diam kucintai itu. Kini setiap hari aku tak sanggup meninggalkannya sendirian di rumah mewah yang sepi itu. Melamun adalah pekerjaannya setiap hari, ia selalu berpikir bahwa kecelakaan itu adalah salahnya.
“Tak baik jika kamu seperti ini terus, keluargamu pasti khawatir. Mereka melihatmu dari atas sana.” kataku padanya sambil mengelus rambut hitam perempuan itu.
“Pulanglah, Fal.” Jawabnya.
“Aku akan menemanimu, Ita.” kataku serak.
“Mereka pasti membenciku, Fal! Andai hari itu aku tak kabur dari rumah.”
Aku membuatnya menangis lagi. Memang berat beban yang di tanggung Ita yang masih belum genap empat belas tahun itu. 28 bulan Februari 2003, tepat hari meninggalnya seluruh keluarga Ita karena kecelakaan. Ketika itu, Ita kabur dari rumah karena Ayah Ita melarangnya menjalin hubungan cinta . Ita kabur ke salah satu rumah temannya di desa. Ayah, Ibu, dan adik Ita berusaha mencarinya.
Seluruh keluarga Ita mencari Ita. Mereka bertanya pada tetangga, teman, dan sahabat Ita, yaitu aku. Aku saja sebagai sahabatnya tidak tahu kemana Ita pergi. Memang sakit melihatnya bersama orang lain, tapi hatiku lebih sakit melihatnya menangis seperti ini.
Setelah bertanya pada beberapa teman Ita, aku mendapatkan informasi tentang keberadaan Ita, langsung saja aku menghubungi Ayah Ita dan memberitahukan bahwa keberadaan Ita di sebuah desa di Kabupaten Malang. Tanpa banyak cakap, Ayah, Ibu, dan Adik Ita berangkat menuju alamat yang aku berikan.
Namun sayang, ketika itu hari sudah gelap. Dan jalan menuju tempat Ita harus melewati jalanan terjal dan belokan tajam. Aku sempat ngotot untuk ikut mencari Ita, tapi Ayah Ita melarangku, seakan beliau tahu apa yang akan terjadi.
Keluarga Ita berkendara dengan mobil kijang. Jika sudah malam biasanya hanya truk-truk yang lewat. Tepat seperti firasat burukku. Mobil kijang itu menikung tajam, dan ketika itu sebuah truk dari arah berlawanan melesat dengan kecepatan tinggi. Kecelakaan tak terhindar lagi, Ayah Ita banting setir dan akhirnya menabrak pagar. Tak ada yang selamat.
“Naufal…” panggil Ita lirih.
“Perlu bantuan?” tanyaku ketika melihat Ita membawa sekardus barang berat. Ita menggeleng pelan dan tersenyum lemah.
“Kata pengacara ini adalah warisan dari Ayah,” kata Ita.
“Ayo kita lihat bersama.”
Ku buka kardus itu. Di dalamnya hanya berisi surat-surat tanah yang menurutku tidak penting. Dari semua barang-barang itu hanya satu yang menarik perhatianku. Sebuah kotak harta karun kecil dari kayu. Aku mengambilnya dan membuka kotak itu. Di dalamnya juga berisi kertas. Sebuah surat, pikirku. Aku tak ingin mencampuri urusan pribadi Ita, jadi dengan segera aku memberikannya pada Ita.
Sambil membuka kertas yang ada di dalam kotak itu, Ita berkata pelan, “di sini tertulis ‘tulis tanggalnya dan coba perbaiki’.”
“Mungkin kotak itu adalah kumpulan tanggal yang menurut pemiliknya sangat berkesan, coba kamu tulis tanggal yang menurutmu berkesan dalam hidupmu dan masukkan,” kataku memberi saran. Dengan segera Ita mengambil kertas dan pensil. Aku melihatnya ia menulis :
’28 Februari 03’ Ita dan Naufal’
“Kau yakin?” tanyaku khawatir. Ita mengangguk pelan lalu memasukkan kertas itu ke dalam kotak harta karun.
“Semoga dengan ini semua kesedihanku dapat di tampung kotak ini,” kata Ita tersenyum padaku. Kali ini senyumannya berbeda. Kemudian tiba-tiba hening. Aku merasa ada yang aneh, kepalaku pusing. Apa mungkin sedang gempa bumi? Aku melirik Ita, ia sepertinya juga merasa pusing, Ita terus memegangi kepalanya yang sakit. PLAP ! semuanya gelap.
“Fal..Naufal..” aku mendengar suara Ita. Aku mencoba membuka mataku. Aku melihat wajah rupawan Ita, tapi raut wajahnya terlihat khawatir.
“Apa yang terjadi?” tanyaku. Aku melihat sekitar. Kami masih berada di tempat yang sama, di kamar Ita.
“Entahlah, coba kamu lihat sekarang tanggal berapa, Fal?”
Aku melihat jam tanganku sejenak. Aku terlonjak kaget. 28 februari 2003! Aku dan Ita kembali ke masa lalu! Ini mimpi? Aku mencubit tanganku. Hm, masih terasa sakit. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa mungkin karena kotak itu?
“Sekarang tanggal 28 Februari 2003 pukul 05.00 sore, Ta!” aku berteriak kaget. Ita mengangguk khawatir.
“Mungkin kotak itu memberi kita kesempatan untuk memperbaiki semuanya!” kata Ita bersemangat. Tapi aku tidak seyakin dirinya. Karena kematian bukanlah permainan.
“Tapi kita tidak boleh mengacau masa lalu! Karena pengaruhnya besar terhadap masa depan!” kataku berusaha mengingatkan Ita.
“Tapi aku harus mencegah keluargaku agar kecelakaan itu tidak terjadi!” teriak Ita dengan air mata bercucuran. Yah, aku membuatnya menangis lagi.
“Biar aku yang bertemu mereka, kau tidak boleh terlihat orang-orang di sekitar!” kataku tegas. Ini bukan permainan, karena masa lalu dan masa depan saling berkaitan. Dan hal ini juga bisa merugikan orang lain. Aku memeluk Ita erat-erat, aku takut kehilangannya.
“Kamu tahu? Ini bukan permainan,” aku berbisik di telinganya lirih. Ita masih menangis dipelukanku.. Ita akhirnya setuju.
“Aku akan mencegah mereka pergi,” aku berdiri dan menggandeng Ita keluar dari kamar. Aku melihat ke jendela sebentar. Aku melihat keluarga Ita bersiap memasuki mobil kijang.
“Kau lihat saja dari jauh, jangan mencoba mendekat.” Perintahku.
Aku berlari menuju mobil kijang milik keluarga Ita. Kemudian aku mengedor kaca mobilnya. Perlahan kaca mobil itu terbuka, dan aku melihat ayah Ita di bagian kemudi.
“Ijinkan saya ikut, Om!” aku berteriak gelagapan sambil ngosngosan. Hanya kalimat itu yang ada di otakku. Ayah Ita menatapku bingung.
“Sudahlah, serahkan masalah ini sama Om, tenang aja.” Jawab Ayah Ita berusaha menenangkanku.
“Tapi Om..”
“Udah! Om berangkat dulu! Ini masalah keluarga Om, lebih baik kali ini Naufal nggak usah ikut ya?” potong Ayah Ita. Ayah Ita segera menstater mobilnya.
“OM! SAYA KUATIR KALAU ADA APA-APA YANG TERJADI!” otomatis mulutku berteriak. Aku juga tak ingin kehilangan orang-orang seperti mereka. Dan aku juga tidak bisa memberi tahukan yang sebenarnya. Ayah Ita menatapku bingung lagi.
“Mm, maksud saya, saya takut kalau misalnya ada kecelakaan atau apalah gitu..” kataku kebingungan.
Ayah Ita malah tersenyum lebar mendengarnya.
“Takdir Tuhan sudah ditetapkan, kita tidak bisa mengubahnya. Manusia hanya bisa berusaha dan Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Katakan itu pada Ita, dan suruh dia tetap melanjutkan hidupnya. Karena ini yang terbaik untuk kita,” sebelum aku menjawab Ayah Ita, Ayah Ita segera menancap gas meluncur menuju tempat Ita kabur.
Aneh. Kalimat Ayah Ita sungguh aneh. Seakan dia tahu bahwa Ita dan aku datang dari masa depan. Aku masih berdiri sambil melamun. Tak terasa Ita berteriak dari belakangku.
“Naufaldy Nur Setiawan !” teriak Ita membangunkan lamunanku.
Aku segera menceritakan semua yang terjadi pada Ita termasuk kalimat aneh dari Ayah Ita.
“Coba bayangkan! Ayahmu seakan tahu kita dari masa depan!” kataku masih bingung.
“Aku tak peduli! Sekarang kita harus menyusul mereka! Cepat!” kata Ita sambil berlari mengambil sepeda montor di garasi. Aku hanya mengikutinya dari belakang.
“Biar aku yang menyetir,” aku takut Ita yang memegang setir, hal itu tak akan ku biarkan. Pernah sekali aku di bonceng Ita, dan hasilnya aku tidak masuk sekolah lima hari. Ita menurut saja dan segera duduk di belakangku.
Aku berusaha menyamai kecepatan mobil kijang milik Ita. Beberapa belokan tajam kulalui dengan mulus. Setelah beberapa belokan akhirnya mobil kijang milik Ita terlihat.
“Ayah! Ayah! Berhenti! Ayah!” aku kaget melihat Ita berteriak-teriak seperti orang gila sambil menangis. Aku tak tahan melihatnya begitu menderita. Tangannya mencengkram pundakku. Air matanya membasahi pundakku. Namun sepertinya Ayah Ita tak mendengar suara Ita. Mobil kijang itu tetap melaju sambil menyalip beberapa truk.
Akhirnya tikungan tempat kejadian kecelakaan itu terlihat. Tinggal beberapa meter lagi. Ita masih berteriak seperti orang gila, air matanya memenuhi seluruh wajahnya. Ita, hentikan. Semua ini tak ada gunanya. Aku lebih takut lagi kalau Ita melihat kecelakaan yang sebenarnya.
Dengan segera aku menghentikan sepeda motor. Dan berbalik untuk memeluk Ita. Aku tak ingin melihatnya menderita lebih dari ini, aku berusaha menutupi pandangannya. Ita meraung-raung tak terima, ia menangis semakin menjadi-jadi.
BRAK! Aku bisa mendengar mobil kijang terpelanting menabrak pagar. Aku hanya bisa menutup telinga Ita agar ia tak mendengarnya. Tapi percuma saja, Ita terus memukul-mukul tubuhku. Ya, pukul saja tubuhku. Aku tak ingin kau menderita lebih dari ini! Tak akan kubiarkan!
“Naufal..! Ayah..Ibu..Adikku..! semuanya! Naufal! Biarkan aku menolong keluargaku! Lepas! Lepaskan!” Ita meronta-ronta dalam pelukanku.
“Sudah terlambat Ita… kita tidak bisa mengubah takdir Tuhan. Kematian ada di tangan-Nya.” Ita berteriak semakin keras. Menangis sejadi-jadinya.
Kami terbangun. Kami berada di kamar Ita, kulihat jam tanganku masih menunjukkan tanggal 5 Maret 2003. Keadaan tidak ada yang berubah. Kotak harta karun itu tertutup rapi. Ita memandangku. Aku tahu ia begitu kesakitan. Tapi berkat kotak itu. Kami mendapat pelajaran bahwa kita tidak bisa menyalahi takdir Tuhan.
Aku mengusap air mata Ita yang tak henti-hentinya berjatuhan. Memeluknya lagi. Memberinya semangat. Memeluknya lebih erat.
“Jangan tinggalkan aku, Fal.” Katanya sambil tersedak-sedak.
“Aku disini Ita. Selalu bersamamu.”
“Kini aku lebih tahu sebuah arti dari keikhlasan, kematian, dan… cinta” kata Ita sambil menatapku tajam. Kini Ita lebih tegar dari sebelumnya. Mungkin semua ini telah direncanakan oleh Ayah Ita, dan tentunya semua ini telah ditentukan oleh Tuhan. Kita sebagai manusia harus selalu berusaha dan bertawakal.
Ita telah memutuskan untuk membakar kotak itu. Ita takut jika ada yang terluka lagi, cukup dia saja yang merasakan semua ini. Malam itu, tanggal 5 maret 2003, Ita melempar kotak harta karun peninggalan Ayahnya ke dalam kobaran api. Dan aku akan selalu mendukung semua keputusannya, selama itu benar dan terbaik baginya.