Cerpen


Tetesan Tinta Nadine
Oleh: Hana Juwita Nur Azizah


                       Hal yang aku tahu tentang perempuan ini adalah kerapuhan di dalam tubuh yang ceria. Kau bahkan tak tahu betapa rapuhnya perempuan ini saat ia tak bisa memegangku, saat ia jauh dari mimpi-mimpi yang indah, saat ia dipisahkan dari takdirnya, dan saat ia dipaksa melakukan hal yang tidak disukainya. Namun kadang kala ia bersemangat ketika memegangku, seluruh pikirannya ia curahkan lewat tinta dari tubuhku dan merekamnya di lembaran kertas kusam.
                        Akhir-akhir ini dia membicarakan tentang ujian akhir sekolah. Dan setiap malam ia membuka buku pelajaran, tak biasanya aku melihatnya begitu rajin, bahkan dia mulai jarang memakaiku untuk menulis di buku kesayangannya, atau ia biasa menyebut buku itu  “Buku Novel Impian Nadine”.
                         Oh ya, aku belum memperkenalkan diri, aku adalah bolpoin tua kesayangan Nadine. Majikanku itu kini sudah menginjak kelas terakhir di sekolah menengah pertama, dan dia semakin sibuk bersiap menghadapi ujian yang masih lama itu.
                         Nadine memasuki kamar dan menggenggamku erat-erat. Ia membuka buku pelajarannya dan mulai mengerjakan PR. Nadine ingin masuk SMA favorit di kotannya. Untuk mencapai cita-cita itu Nadine mulai menyicil belajar untuk menghadapi UAN.
                         Nadine adalah orang yang tak takut untuk bermimpi, bahkan ia tak tanggung-tanggung jika bermimpi. Dan yang paling aku suka darinya adalah: ia tak takut jika terjatuh ketika akan manggapai mimpinya. Kalian tahu? Kenyataan itu datangnya dari sebuah mimpi.
                         Di atas jam Sembilan ia biasanya menggunakanku untuk melanjutkan karya seninya. Tapi malam ini berbeda.
                      “Kok belum belajar, Nadine?” kata Ibu Nadine begitu memasuki kamar.
                     “Sudah selesai kok, Bu.” Jawab Nadine santai.
                        “Jangan menulis hal-hal tidak berguna seperti novel ini! Bagaimana pelajaranmu nanti?!”
                     “Kan aku sudah selesai…”
                        Sudah, jangan menjawab! Menjadi penulis belum tentu mendapat masa depan yang cerah! Menjadi guru itu baru masa depan yang cerah!” potong Ibu seraya berjalan keluar dari kamar.
                           Yah, sejak saat itu Nadine yang ceria menghilang. Bahkan buku-buku yang berhubungan dengan sastra tidak diperbolehkan di sentuh Nadine. Peraturan dari Ibunya hanya memperbolehkan Nadine untuk belajar dan belajar. Aku muak melihatnya.
                         Melarang Nadine menulis sama artinya Nadine kehilangan separuh hidupnya. Melarang Nadine menyentuhku sama artinya mengambil paksa mainan dari bayi. Dan melarang Nadine menggapai mimpinya sama artinya membunuh Nadine secara perlahan-lahan!
                         Kini bantalnya basah di penuhi air mata keputus asaan. Aku takut. Aku takut dia berhenti menulis. Aku takut dia meninggalkanku. Tapi tiba-tiba Nadine mengusap air matanya dan menatapku tajam penuh rasa tegar. Perlahan ia bangkit. Ia akan menyelesaikan semua ini. Aku tahu, bahwa Nadine tak akan menyerah dengan mudah.
                         Lega rasanya melihat Nadine kembali seperti biasanya. Ini semua berkat nasehat kakak Nadine tersayang, Kak Edo. Ketika Nadine terpuruk, ia berusaha menceritakan pada Kak Edo apa yang terjadi dan meminta pendapat. Aku kagum. Kak Edo adalah orang yang berpikiran positif.
                      “Mungkin Ayah dan Ibu khawatir jika Adin tidak mendapatkan sekolah favorit karena Nadine kurang belajar,” kata Kak Edo setelah mendengar cerita Nadine. Adin adalah panggilan Kak Edo pada Nadine.
                         “Tapi Kak! Mereka nggak tahu apa yang aku rasakan! Nadine ingin menggapai mimpi Nadine! Nadine punya mimpi!” kata Nadine penuh amarah.
                      “Kau tak ingin diremehkan, kan?” Tanya Kak Edo.
                      “YA!”
                       “Nah, sekarang kau buktikan bahwa kau bisa mendapat nilai bagus meski Nadine suka menulis! Buktikan bahwa Nadine bisa!” ucap Kak Edo penuh semangat.
                      Nadine langsung tersenyum.
                         “Ya, aku akan menggapai mimpiku. Aku akan membuktikan pada Ayah dan Ibu kalau aku bisa sukses dengan menulis!” kata Nadine pada dirinya sendiri.
                         Kini Nadine membuat perjanjian dengan dirinya sendiri. Semua kata-kata pedas dari Ibunya akan dijadikan sebagai motivasi. Nadine tak akan menyerah. Dan sekarang Nadine telah selangkah lebih maju dalam menggapai mimpinya. Di sini aku akan menjadi saksi bisu dalam petualangan tetesan tinta Nadine. Jadi, apa kalian punya mimpi? Bagaimana caramu menggapainya?