Epilog
Namaku Flavian Ellanor anak seorang pedagang roti yang telah di tinggal ayah dan mempunyai seorang kakak perempuan bernama Kylan dan biasa di panggil Key. Tadi pagi aku pergi bersama Key ke Market Qualite untuk membeli bahan-bahan roti.
Akan ku ceritakan tantang duniaku yang tersembunyi dan hanya di ketahui oleh kaum kami . Tempat itu bukan di bumi, juga bukan di alam semesta ini. Dunai kami sudah ada sebelum kehidupan di dunia berlangsung.
Perjalanan menuju ke diniaku harus menaiki Horsetrain, horsetrain adalah semacam makhluk air yang sangat menjijikkan namun kecepatanya melebihi kecepatan cahaya. Ketika kau menaikinya, kau harus berjalan melewati segi tiga Bermuda lalu menembus lautan sampai kau akan berada di dimensi lain kemudian berjalanlah terus dengan kecepatan maksimal ( siapkan kantong muntah, aku tidak bercanda) dan kau akan sampai di gerbang dunia kami. Dan hanya keturunan PARA PENYIHIR yang bisa melewati gerbang itu. Maaf saja jika kau tak bisa melewatinya karena kau bukan penyihir. Tapi akan ku ceritakan kisahku dulu, jangan lupa siapkan sabuk pengaman karena kau akan terguncang mendengar ceritaku.
BAB 1
Rahasia Terbongkar
Langkah kaki dua bocah kakak beradik itu terdengar ketika terkena genangan air hujan. Sang kakak yang berumur 17 tahun berambut pirang gelap terurai hingga melebihi bahunya ia berbadan tinggi mungil dengan mengenakan short dress putih yang sudah kusam hingga warnanya tampak coklat, kulitnya putih dan memiliki mata abu-abu yang indah. Sang adik laki-laki berumur 15 tahun memiliki rambut merah menyala dan warna kulit tropis, mata coklat seperti ular yang menghipnotis siapapun , tinggi badannya melebihi kakak perempuannya, dengan memakai switer abu-abu dan celana jeans biru ia tampak 3 tahun lebih tua dari umurnya. Kakak beradik itu wajahnya sangat rupawan, kemiripan mereka terdapat pada mata mereka yang indah dan menghipnotis . Kylan Ellanoer dan Flavian Ellanoer namanya. Yup itu aku, Flavian Ellanoer.
Meski masih subuh kami melakukan tugas mereka sebelum toko buka. Ibu kami, Erica Ellanoer membuka toko roti di Kota Lonary. Ayah kami, Jason Ellanoer kabarnya kabur dengan wanita lain dan tak terdengar kabarnya lagi. Maka kami terpaksa berjualan roti untuk mengisi perut. Saat ini Flavian dan Key sedang membeli bahan-bahan untuk membuat roti. Bahan-bahan tersebut hanya ada di kota sebelah dan jaraknya tak cukup jauh dari rumah.
Musim dingin hampir tiba dan ketika musim dingin pesanan roti bertambah tiga kali lipat. Di toko mereka terdapat seorang wanita paruh baya yang bekerja untuk keluarga Ellanoer , bayarannya adalah sebuah kamar dan makanan setiap harinya. Ia adalah Beryl.
Setengah jam berlalu, Flavian dan Key sampai pada sebuah toko yang bernama Market Qualite. Mereka mulai memasuki toko tersebut. Toko itu terlihat sepi tetapi tetap nyaman dan rapi, hanya sedikit perabotan yang berada di toko itu, sebuah lukisan yang menarik perhatian setiap pengunjung adalah lukisan yang menggambarkan sejarah entah sejarah apa dan hanya orang-orang tertentu yang mengerti sejarah dalam lukisan penuh misteri itu itu. Seorang lelaki sebaya dengan Key yang sedang sibuk membersihkan perabotan tiba-tiba menoleh ketika mendengar suara kakak beradik itu memasuki toko dan seketika ia menyunggingkan sebuah senyuman yang menawan. Rambut pemuda itu berwarna biru gelap dan ia mempunyai bekas luka di mata kirinya, itu yang membuat pemuda tersebut semakin menawan .
“Hai Key! Sudah ku tunggu kau dari tadi,” kata pemuda itu.
“Maaf, Yorick hari ini aku bangun kesiangan..” kata Key.
“Ini pesanan kalian.” Kata Yorick sambil memberikan beberapa kantong yang berisi bahan-bahan pembuat roti. “Apakah kau membawa gerobak?” Tanya Yorick .
“Aduh! Aku lupa membawanya!” jawab Flvian.
“Bagaimana ini..,?” kata Key.
“Tenang saja, ambilah gerobak milik Mrs. Monde! Besok kau bisa mengembalikanya.” Kata Yorick sambil menunjuk gudang belakang. Dengan seketika Flavian langsung menuju tempat yang di maksud Yorick. Ia membuka pintu kayu yang sudah reot itu. Di dalam gudang tersebut terdapat wanita tua dengan piayama tidur yang masih melekat di badannya, sepertinya ia sedang mencari sesuatu.
“Mrs. Monde, bolehkah aku meminjam gerobak anda?” tanya Flavian, wanita tua itu menoleh tersenyum dan mengangguk. Kemudian Flavian mengambil sebuah gerobak yang terdapat di sudut gudang.
“Oh, ya Flavian bisakah kau ambilkan buku tebal itu?” kata Mrs. Monde sambil menunjuk ke arah lemari buku yang sudah rusak termakan jaman. Flavian mengambil buku itu dengan mudah karena badanya yang tinggi membantunya, ia memberikan buku itu pada Mrs. Monde.
“Flavian, bawalah buku ini dan pelajarilah,” kata Mrs. Monde sambil memberikan buku itu padaku. Aku menerimanya dengan bingung, di sampul buku itu tertulis ‘Kumpulan mantera sederhana’.
“Sepertinya anda memberikan buku ini pada orang yang salah, karena aku bukanlah seorang penyihir.” Kataku sedikit kecewa. Mrs. Monde mengelus rambutku.
“Bacalah saja, sudah bergegaslah kakakmu sedang menunggumu!” kata Mrs. Monde. Dengan segera aku menyelipkan buku di jaket dan segera kembali ke Key sambil membawa garobak yang sudah reot namun terlihat masih kokoh.
Key memandang Flavian dengan jengkel. Flavian menyunggingkan senyumnya yang menawan sehingga membuat Key luluh hatinya, jika Flavian tersenyum maka senyumanya membuat semua orang ikut tersenyum bahagia. Bocah itu memang sangat menawan.
Key memasukkan paket-paketnya ke dalam gerobak dengan cekatan. Lalu ia tersenyum kepada Yorick dan Flavian mendorong gerobak ke luar toko di ikuti Key di belakangnya.
Di luar toko cuaca sudah nampak bersahabat kakak beradik itu mempercepat langkahnya. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah toko yang tertulis ‘ Market Ellanoer’ di papan namanya. Key membuka pintu toko tersebut sehingga Flavian dapat memasukan gerobaknya. Di dalam toko tersebut tampak sesosok wanita yang sedang menunggu mereka datang. Rambutnya sepunggung pirang gelap dan senyumanya yang menawan ia turunkan kepada anak-anaknya. Ialah ibu kakak beradik itu. Erica Ellanoer.
“Mom, maaf kami terlambat,” kata Flavian sambil memberikan senyuman andalanya. Ibu Flavian hanya tersenyum sambil mencium pipi Flavian dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Baiklah , ayo Key bantu Mom dan Beryl membuat roti di dapur!” kata Mom, Key segera mendorong gerobak tersebut ke dapur di ikuti Mom .
Ku ambil buku yang telah diberikan Mrs. Monde dan kuselipkan di dalam mantelku, aku takut Mom memarahiku mempelajari buku mantra itu karena Mom selalu memarahiku jika aku melakukan sesuatu yang berkaitan dengan sihir. Mom selalu berkata sihir itu tidak ada dan hanya khayalan anak kecil. Tapi aku bukan anak kecil lagi dan aku tahu semua penyihir yang ada di desa ini, contohnya Mrs. Monde. Meski aku bukan penyihir aku ingin mempelajari sihir.
Aku berlari menuju dapur dan mengambil sebungkus roti keju dan kumasukan ke dalam kantong. Beryl melirikku dengan tatapan curiga, ketika aku menyadarinya aku hanya tersenyum , dan senyumanku meluluhkan hati Beryl ia menjawab dengan mengangguk pelan. Aku segera menuju garasi dan menaiki sepeda. Tapi terlambat, mom melihatku di garasi.
“Mau kemana, Flavian ?” Tanya Mom berjalan mendekatiku.
“Ke lapangan sebentar Mom, aku ada janji dengan Yorick!” jawabku sambil langsung menggayuh sepeda dengan terburu-buru sehingga Mom tak dapat melanjutkan ceramah paginya. Terpaksa aku berbohong pada Mom.
Setelah merasa jauh dari rumah, aku menurunkan kecepatan sepedaku. Dan tak lama kemudian aku sampai di sebuah pohon oak lalu menyandarkan sepedaku di pohon tersebut. Aku memanjat pohon itu hingga mencapai salah satu rantingnya untuk duduk disana. Pemandangan yang terlihat dari pohon oak sangatlah indah namun keindahan itu sirna karena terhalang sebuah rumah hitam yang tinggi nan menakutkan juga bisa di sebut istana. Minggu lalu istana itu belum di bangun-dan entah mengapa satu minggu kemudian muncul istana itu dan seketika menutupi eksotisnya pemandangan hamparan lautan apalagi ketika matahari terbenam, sungguh tiada duanya.
Belakangan ini tersiar kabar bahwa istana itu jatuh dari langit pemberian tuhan-omong kosong macam apa ini ? Aku tahu mengapa istana itu tiba-tiba muncul dan setelah melihat istana itu aku juga bertemu kaum Sealmaid yang sangat menawan.
Ketika itu Para Penyihir yang membawanya lewat pintu dimensi. Aku sedang pergi ke laut untuk melihat bayi-bayi penyu yang sedang menetas, tapi di tengah jalan aku melihat beberapa penyihir berjubah hitam berdiri membentuk pola lingkaran lalu aku segera bersembunyi di balik pepohonan, aku melihat mereka berkomat-kamit mengucapkan mantra kemudian munculah pusaran hitam di tengah pola lingkaran yang mereka buat, keluarlah istana tersebut dari pusaran hitam tadi. Namun salah seorang penyihir menoleh kepadaku ia berambut hitam senyumnya sangat menawan sekaligus penuh misteri. Ketika aku melihat senyumanya kakiku langsung lemas dan tak dapat berlari meninggalkan tempat itu, wajah orang itu sepertinya sangat familiar bagiku. Senyuman yang sangat menyihir. Orang itu memalingkan wajahnya kemudian menghilang bersama penyihir lainnya meninggalkan asap hitam mengerikan. Aku tak tahan lagi, dengan kekuatanku yang masih tersisa aku berlari meninggalkan tempat itu , namun entah mengapa aku malah berlari ke arah pantai. Aku merasa laut memanggilku ke pantai.
Sepatuku menyentuh pasir, ku dengar deru ombak yang bersahutan . di bawah sinar bulan ku beranikan diri untuk maju selangkah lagi. Tunggu dulu, terdengar suara wanita menyanyi, sungguh merdu dan indah suaranya. Aku berjalan menuju suara tersebut, setelah cukup dekat aku melihat… wanita yang sedang bermandikan cahaya bulan. Aku melangkah lagi agar bisa melihat sosok wanita itu. Rambutnya berwarna biru laut dan Ia tak mengenakan sehelai kain tetapi ia melilitkan rumput laut dan cangkang kerang di beberapa bagian tubuhnya . Kulihat bagian bawah tubuhnya, bukan kaki yang kulihat tapi ekor ikan perak berkilauan terkena sinar bulan. Ia semacam putri duyung.
Putri duyung itu berhenti bernyanyi dan menoleh kepadaku. Bola matanya jingga menatap kearahku, kemudian ia menatapku dengan garang. Sepertinya ia kaget melihatku sehingga dia membuka sedikit mulutnya dan mendesis lirih, aku melihat ia menunjukkan taringnya yang tajam dan mengerikan. Matanya berwarna jingga terang mengeluarkan cahaya begitu matanya bertemu dengan mataku. Dia menatapku sejenak, matanya masih mengeluarkan cahaya. Kemudian cahaya itu hilang, matanya kembali jingga terang.
“Mau apa kau penyihir datang kemari ?!” ucapnya sambil mendesis.
“Hei ! Aku bukan penyihir! “ kataku segera. Ia menatapku lagi.
“Hanya kaum penyihir yang bisa melihat kaum kami,” Katanya lagi.
“Sudah kubilang aku bukan penyihir!” kataku ngotot. Putri duyung itu berhenti mendesis kepadaku dan tersenyum, “ oke baiklah aku percaya kepadamu,” ia tersenyum lagi.
“Ta..tapi… mengapa kau tadi tidak percaya kepadaku?” tanyaku ingin tahu.
“ Dasar manusia… mereka selalu ingin tahu… oke kemarilah, akan ku ceritakan mengapa aku percaya kepadamu,” kata putri duyung itu. Ku rasakan sepertinya tidak ada bahaya yang mengancam jadi aku mendekati putri duyung itu tanpa khawatir, aku duduk di sebelahnya dan tanpa sadar aku memerhatikan ekornya yang indah. Seketika aku merasa nyaman di dekatnya, aku merasa ia makhluk yang sangat bersahabat. Aku tersenyum kepadanya, tiba-tiba ia kaget melihat senyumanku.
“Senyuman itu… sangat menawan, kau tahu? Hanya kaum penyihir yang mempunyai senyuman itu dan penyihir pun sangat jarang memilikinya, tapi kau bukan penyihir, kaum apa kau ini..?” Tanya putri duyung itu heran melihatku, “ ah, luapakan saja pertanyaanku tadi, oh ya, aku Sealy kaum Sealmaid jangan samakan kami dengan kaum Mermaid ya…” katanya sambil menjabat tanganku.
“Flavian, aku hanya manusia biasa, memangnya apa bedanya kaum Sealmaid dengan kaum Mermaid?” Tanyaku sambil menyambut jabatan tanganya dan kurasakan kehangatan di tanganya.
“Meski sosok kami hampir sama tapi kami berbeda, kaum Sealmaid bisa merasakan kejujuran pada diri seseorang, kami bukan makhluk buas , dan kami juga bisa merubah ekor kami menjadi kaki seperti manusia pada umumnya.” Kata Sealy sambil menatap bulan. “ tapi kaum Mermaid adalah makhluk buas dan sangat kuat! Mengerikan meski terlihat baik, tapi mereka tidak bisa berubah seperti kaum kami,” lanjut Sealy sambil mendesis dan rambutnya yang berwarna biru laut kini mulai berwarna hitam keruh. Kemudian ia berhenti mendesis dan menoleh kepadaku , seketika rambutnya berubah menjadi biru laut lagi. Rambutnya begitu indah dan terdapat hiasan kerang melingkari kepalanya.
Aku menatapnya dengan heran ia begitu cantik jika menjadi manusia, pikirku. Aku menatap bulan dan merasakan siraman cahayanya. “Bagaimana aku bisa membedakan kaummu dengan kaum Mermaid?” tanyaku sambil menikmati deru suara ombak.
“Mereka tampak lebih menawan di banding kaum Sealmaid dan lidahnya berwarna abu-abu pucat, mereka mempunyai tatto di lengan kanan mereka bergambar simbol kaum mermaid yaitu kepiting,” jawab Sealy dengan muka jijik.
“Mengapa kau tidak takut padaku?” tanyaku lagi.
“Karena aku melihat kejujuran yang tulus di matamu,” kata Sealy menatapku . Tatapanya sungguh menghipnotis dan aku hanya bisa menatapnya sambil tersenyum.
Kami saling menatap cukup lama, rasanya kami menyampaikan perasaan kami dengan lewat tatapan. Aku mendengar suara merdu yang keluar dari mulut Sealy. Rasanya aku ingin lebih lama lagi menatapnya. Namun Sealy memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lautan. Terdengar suara lumba-lumba yang sangat keras. Sealy menatapku sebentar dan tanganya menyentuh pipiku. Aku merasakan suatu keajaiban dan aku ingin merasakanya terus.
“Maaf Flavian aku harus pergi, maukah kau menggendongku sampai batas antara daratan dan lautan?” kata Sealy sambil melepaskan tanganya yang menempel di pipiku tadi. Aku hanya mengangguk pelan dan mengangkat tubuhnya, Sealy meletakkan tanganya melingkari leherku tubuhnya menyentuh tubuhku ku merasakan geteran aneh menjalar kemana-mana hingga kakiku menyentuh air laut . Aku terdiam sebentar.
“Apakah kau merasakan getaran itu ?” Tanya Sealy lirih .
“Ya, aku merasakanya juga,” jawabku dan aku menurunkan Sealy . Aku tersenyum kepadanya. Sealy hanya menatapku sejenak kemudian ia mengambil segenggam pasir dan ia mengubahnya menjadi kalung yang di hiasi sebuah kerang berwarna biru seperti warna rambutnya, Sealy memberikanya kepadaku.
“Ini akan menjagamu, jika kau ingin memanggilku menyelamlah dan panggilah namaku. Dengan ini kita sudah terikat,” kata Sealy dan ia berenang menjauhiku.
Saat ini, di atas pohon oak aku memandangi kalung yang di berikan Sealy kepadaku kemarin malam. Memikirkanya saja aku sudah bahagia. Nanti malam aku berencana menemuinya. Sekarang aku akan membaca buku yang di berikan Mrs. Monde .
Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh yang aku alami dan semua itu berkaitan dengan SIHIR. Entah mengapa akhir-akhir ini Mom juga sering cemas jika aku pulang terlambat padahal biasanya Mom tidak seperti itu.
Aku hanya membolak-balik buku sihir itu, tidak ada yang menarik , pikirku. Ku jatuhkan buku itu ke tanah dan mulai memejamkan mata sambil menggenggam kalung pemberian Sealy dan melupakan ke jenuhan yang di sebabkan keberadaan istana hitam jelek itu.
Aku mendengar suara merdu dari kalung kerang itu. Ingin rasanya aku bertemu Sealy lagi. Suaranya sungguh menenangkan hati.
Keheningan itu akhirnya pecah karena terdengar suara kereta kuda yang berhenti tidak jauh dari pohon oak yang ku panjat ini. Dengan malas aku membuka perlahan bola mataku.
Meski kereta kuda itu masih jauh dari pohon oak yang aku panjat ini tapi aku mengenali kereta kuda itu, itu milik Lady’s Bertha Ellanoer, Bibiku. Dan Mom melarang aku untuk menemuinya. Dengan panik kalung kerang itu langsung ku pakai di leherku dan segera turun dari pohon. Tanganku menyahut buku sihir yang ku jatuhkan tadi kemudian aku langsung berlari menjauhi tempat itu. Tapi terlambat.
Kereta kuda itu berhenti tepat di depanku. Turunlah sesosok wanita cantik memakai gaun merah muda yang mencolok tetapi ia tetap terlihat cantik. Rambutnya pirang ikal di urai, yang lebih mengaketkan di pundaknya bertengger naga tingginya setengah meter lebih.
“Flavian !! “ teriak Bibi Bertha sambil berjalan mendekati Flavian. Sudah terlambat untuk pergi pikirku, jadi hadapi saja.
“Oh, Bibi Bertha….” Ucapku bingung. Bibi Bertha memandangiku dari ujung kaki sampai rambut kemudian ia tersenyum.
“Sudah besar kau Flavian… Rambut merahmu seperti milik Ibumu. Tampan dan dewasa,” kata Bibi Bertha sambil mengelus rambutku. Aku hanya bisa berdiri kaku merasakan jari-jari dingin Bibi Bertha.
“Hm, buku apa yang kau bawa itu Flavian?” Tanya Bibi Bertha.
“I-ini… Buku sihir yang diberikan oleh Mrs. Monde. Tap-tapi jangan bilang pada Mom! Aku pasti kena marah jika aku mempelajari sihir, bahkan aku saja bukan penyihir tapi Mrs. Monde selalu memperlakukanku sebagai penyihir..” aduh! Aku keceplosan!
“Apa!! Ibumu bahkan tak memperbolehkan kau belajar sihir?! Asal kau tahu Flavian, ayahmu seorang penyihir berbakat yang pernah dimiliki dunia sihir tapi dia mempelajari sihir terlarang dan kabur bersama penyihir jahat lainya! Sungguh memalukan bagi keluarga Ellanoer yang terhormat ini,” kata Bibi Bertha penuh amarah, “ dan jangan-jangan kau tidak tahu kalau kau itu PENYIHIR ?!” lanjut Bibi Bertha.
Aku mulai mencerna kata-kata Bibi Bertha. Aku adalah penyihir? Jadi aku bisa melihat kaum Sealmaid karena aku penyihir? Semua ini nyatakan? Bahkan Mom tak memberi tahuku bahwa aku adalah penyihir…
“Kau dan kakakmu adalah penyihir, semua keluarga Ellanoer adalah penyihir !” kata Bibi Bertha lagi. Aku hanya memandang dengan pandangn kosong kepada Bibi Bertha. “ aku dan Key adalah penyihir….” Kataku heran.
“Sudah cukup! Ibumu memang keterlaluan! Ayo ikut aku akan ku bawa kau ke dimensi sihir malam ini juga!” kata Bibi Bertha penuh emosi. Mengapa Mom merahasiakan hal ini padaku dan Key.
Kecantikan Bibi Bertha seakan hilang di telan oleh amarahnya. Ia menarik tanganku memasuki kereta kuda. Apa yang sebenarnya terjadi.
Di dalam kereta kulihat seekor naga Bibi Bertha dengan rasa ingin tahu. Kulitnya bersisik keemasan. Naga itu menoleh kepadaku.
“Ada apa, nak? Sepertinya kau tidak pernah melihat seekor naga,” Tanya naga itu membuyarkan lamunanku.
“Dia Joy, nagaku. Setiap penyihir mempunyai naga jika umurnya sudah delapan belas tahun,” kata Bibi Bertha sambil mengelus kepala naganya. Aku hanya terdiam membisu, tak tahu harus melakukan apa. Bibi Bertha memperhatikanku dengan tatapan sedih.
“Seorang penyihir akan membuat telur naganya sendiri dengan kekuatan sihir . naga adalah hadiah terindah ketika umurku delapan belas tahun. Sumber tenaga penyihir yang utama adalah naga, kau dan Key pasti mempunyai Naga. Berapa umur kalian ?” Tanya Bibi Bertha berusaha mengajakku berbicara.
“Aku lima belas tahun, Key tujuh belas tahun dan satu minggu lagi dia berulang tahun,” jawabku dengan nada datar.
“aku harus segera membawa kalian ke dimensi sihir. Secepatnya.” Kata Bibi Bertha mantap lalu ia mengamati kalung yang aku pakai.
“Kalung apa itu Flavian?” tanyanya lagi.
”Oh, ini kalung yang kubeli di pedagang pantai kemarin,” jawabku berbohong, aku tidak akan menceritakan rahasia tentang Sealy. Bibi Bertha hanya tersenyum lega. Kereta kuda berhenti tepat di depan rumahku.
Bibi Bertha turun dan aku menyusul di belakangnya. Tangan cantik Bibi Bertha membuka pintu masuk yang bertuliskan ‘Buka’ . Mom terlonjak kaget melihatku bersama Bibi Bertha.
“Mau apa kau Bertha dengan anakku?!” ucap Mom penuh amarah.
“Tentu saja membawa anakmu ke dimensi sihir! Kau yang salah Erica! anak-anakmu bisa celaka jika tak mempelajari sihir Magic Dragon, mereka hampir berumur delapan belas tahun!” kata Bibi Bertha berteriak.
“Hanya aku yang berhak mengajarinya!” balas Mom, “Mereka anakku, kau tak bisa seenaknya saja!” kata Mom lagi.
“Tidak bisa! Anakmu bisa mati! Joy kemasi barang-barang Flavian dan Key!” kata Bibi Bertha dan Joy pun langsung mengepakkan sayapnya lalu terbang menuju kamarku dan Key .
Key keluar dari dapur dan melihat keributan yang sedang terjadi, ia berlari menghampiriku namun di halangi Mom.
“Diam disitu, Key! ” Kata Mom.
“Tapi Flavian?!” kata Key, Mom menatapnya dengan tajam dan itu artinya Key harus menuruti kata-kata Mom.
“Etha kemari!” teriak Mom dan seketika datanglah seekor naga dari langit masuk melewati jendela. “ Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” kata Mom lirih dan naganya, Etha mengangguk pelan.
Etha terbang menghalangi Joy, Bibi Brtha sepertinya tak bisa menahan amarahnya lagi.
“Beri aku kekuatan Joy” kata Bibi Bertha.
Mom terlihat sedang berkonsentrasi sambil memejamkan matanya sejenak, kemudian ketika ia membuka matanya seketika terasa kekuatan yang sangat dasyat sehingga Key dan aku terpental jatuh tapi tidak untuk Bibi Bertha. Dia hanya berdiri menahan kekuatan Mom dengan susah payah meski Bibi Bertha tahu kekuatannya tidak sebanding dengan Mom.
”Menyerahlah kau Bertha!” Kata Mom sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Etha seketika menyerang Joy.
Namun aku merasakan sesuatu yang panas dalam tubuhku dan aku tak bisa menahan sebuah gejolak kekuatan yang tiba-tiba meluap. Tubuhku serasa bergetar tak karuan. Aku hanya bisa berteriak menahan rasa sakit itu sepertinya kekuatan sihirku keluar, tubuhku bercahaya dan kemudian aku berhenti berteriak. Key berlari mendatangiku langsung memeluk tubuhku yang hendak terjatuh.
Waktu terasa berjalan begitu cepat, ku buka kelopak mataku. Aku sudah berada di ranjang, Mom menggenggam tanganku, Bibi Bertha diam dengan tatapan begitu khawatir. Key memasuki kamar dengan membawa nampan berisi biskuit kesukaanku dan juga segelas susu hangat lalu Key memberikannya padaku. Dengan lahap tanganku memasukkan makanan-makanan lezat tadi ke mulutku.
Aku tersedak begitu melihat Paman Frederick memasuki kamarku, dia masih memakai jas kerjanya rambut hitamnya basah karena keringat, berulangkali ia mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan. Paman Frederick adalah dewan penyihir. Suami Bibi Bertha ini terlihat berantakan, sepertinya ia datang mendadak karena masalah antara Bibi Bertha dengan Mom.
Datang seekor naga memasuki kamarku melalui jendela yang terbuka, naga itu mendarat di bahu sebelah kanan Paman Frederick. Naga itu berwarna keemasan dan sebuah kalung giok emas tergantung di lehernya. Kemudian Paman Frederick memberikan isyarat pada naganya lalu naganya terbang ke pangkuan Bibi Bertha.
“Apa kau sudah puas menyiksa anak-anakmu sendiri, Elita? Sampai-sampai Flavian tak bisa menahan kekuatannya yang menguap. Jika penyir jahat mengetahui kekuatan Flavian ia bisa dalam bahaya besar!” Kata Paman Frederick sambil mengambil sebuah cerutu dari saku dalam jubah hitamnya. Mom berdiri diam tak menjawab ia berjalan ke jendela menatap keluar, seakan mencari ketenangan untuk berpikir.
“Mom? Jelaskan apa yang sedang terjadi sebenarnya?” tanya Key resah.
“Maafkan Mom anak-anak, selama ini Mom tidak memberitahu kalian.” Kata Mom kembali duduk di tempatnya tadi sambil mengelus kepalaku lembut.
“Sebenarnya kalian adalah penyihir, kalian harus mempelajari sihir. Kalian akan ikut dengan Paman Frederick dan Bibi Bertha ke dimensi sihir.” Ucap Mom dengan nada berat.
“Mom ikutkan?” tanyaku sambil menggenggam tangan Mom yang dingin.
Mom menyunggingkan senyum, “tidak, Mom tidak ikut. Tenang saja Bibi Bertha dan Paman Frederick akan mengurus kalian dengan baik.”
“Tapi Mom..” kata Key.
“Mom di tugaskan menjaga keseimbangan antara dunia manusia dengan dunia sihir, jadi Mom akan tetap disini,” kata Mom tersenyum tenang.
“Baiklah, ayo kemasi barang-barang kalian!” kata paman Frederick memecah ketenangan tadi. Key bangkit dan berjalan keluar ke kamarnya, ia butuh waktu sendiri. Aku mengangkat badanku dan merenggangkan tubuhku.
“Oke, aku dan Frederick akan menunggu di kereta.” Kata Bibi Bertha sambil berjalan keluar diikuti Paman Frederick.
Mom menatapku sebentar lalu ia berdiri dan meninggalkanku sendirian. Oke, sekarang aku akan mengemasi barang-barangku. Setelah kurasa barang-barangku sudah cukup aku mengangkatnya dan berjalan keluar kamar melewati kamar Key, aku melihat Mom memeluk Key yang sedang menangis. Namun aku tetap berjalan melewati kamar Key, aku tak mau mengganggu mereka, ladies time.
Aku berjalan keluar dan memberikan koperku pada kusir agar diikat di atas kereta. Tunggu dulu, aku merasa seperti sedang di perhatikan. Aku membalikkan badan melihat sekitar, hanya ada burung gagak yang sedang hinggap di pohon. Tak ada siapa pun. Mungkin hanya perasaanku saja. Kulihat Key sedang mengangkat kopernya keluar.
Mom mendekatiku dengan langkah ragu-ragu di sertai Key di belakangnya.
“Sebenarnya Mom mempunyai alasan mengapa Mom tidak mengajari kalian sihir, tapi Mom tidak bisa memberi tahu kalian sekarang,” kata Mom lirih padaku dan Key. “Ini berkaitan dengan ayah kalian, jangan sekali-kali berpikir ayah kalian adalah penyihir jahat, itu pesan Mom selama kalian jauh dari Mom.” Kata Mom sambil memelukku erat.
Key memeluk pundakku dan kami naik ke kereta kuda. Aku memandang Mom yang sedang di peluk Beryl. Sesaat kurasakan dunia begitu dingin. Berat rasanya meninggalkan Mom.
Dan di mulailah perjalananku menuju dimensi sihir.
BAB 2
Gerbang Tanpa Tiang
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menatap keluar jendela dan tak berani melihat Key yang sedang menangis. Malam ini begitu sendu. Menatap lautan yang begitu luas, hitam, dan dingin, seakan ingin menelan kapal-kapal yang terombang-ambing.
Sealy! Aku baru ingat, rencananya malam ini aku akan datang menemuinya. Apakah nanti di dimensi sihir aku masih bisa bertemu denganya. Dunia kami sangat berbeda. Aku seorang penyihir dan Sealy seorang kaum Sealmaid. Kaum Sealmaid tidak menyukai kaum kami.
Tiba-tiba kereta kuda berhenti mendadak dan membuat aku terjungkal ke arah Key, tapi Key berhasil menghindar dan kepalaku terbentur tempat duduk Key. Aku melotot pada Key, Key membalasku dengan menjulurkan lidahnya. Key segera mengelap mukanya dengan sapu tangan dan menghela nafas.
“Ayo anak-anak kita sudah sampai !” kata Bibi Bertha dari luar.
Aku kira benar-benar sampai, tapi ternyata kami sampai di sebuah gua yang hanya diterangi cahaya remang-remang dari obor yang dipegang Bibi Bertha. Mulut gua masih terlihat di belakang tak jauh dari kereta, dan di depan mulut gua terdapat lautan.
Aku mendengar nyanyian itu sekali lagi, nyanyian dari kaum Sealmaid. Mungkin itu Sealy! Kakiku melangkah perlahan mendekati suara nyanyian yang merdu itu, terus melangkah hingga mendekati mulut gua.
“Flavian! Mau kemana kau ?” teriak Key dari kejauhan.
“Kau lebih baik duluan saja! Aku ada urusan,” jawabku sambil berlari ke luar gua. Tanpa kusadari key berlari menyusulku.
Dia menarik lengan bajuku dan sambil mengatur nafasnya ia berkata, “Jangan sembunyikan rahasia dariku, Flavian ! Rahasiamu, rahasiaku juga. Kita adalah saudara.” Ucap Key mengelus kepalaku lembut. Aku terdiam sejenak memikirkan kata-kata Key.
“Oke, kau boleh ikut aku, jangan melakukan apapun yang tak perlu dan tetap diam! Jangan bercerita pada siapapun, janji demi telur naga busuk?” aku meludah di tangan dan memberinya jabatan tangan.
“Janji telur naga busuk!” kata Key sambil meludah di tangannya dan menjabat tanganku.
Aku berlari ke lautan di susul Key. Aku melihat ke sekeliling. “Diam di situ!” kataku pada key dan dia langsung mengangguk. Aku berjalan perlahan menuju air laut hingga air yang dingin menusuk tulang menyentuh pinggangku, aku mengeluarkan kalung pemberian Sealy, kalung itu mengeluarkkan cahaya biru. Dalam hati aku memanggil nama Sealy. Kemudian beberapa ombak menghantamku di susul gemuruh petir, seakan badai datang langsung ke hadapanku. Aku berusaha tetap pada posisiku meski tubuhku diterjang ombak yang cukup kuat.
Beberapa saat kemudian Sealy muncul di hadapanku, melihat Sealy aku langsung terlonjak kaget, dia sekarang muncul di hadapanku dengan kaki panjang menawan. Ekornya berubah menjadi kaki dan di tutupi gaun tipis berwarna biru seperti rambutnya.
“Hei !” kata Sealy memecahkan lamunanku.
“Apakah harus ada badai ketika kau muncul? Kalau begini terus aku bisa mati,” kataku bercanda.
“Yah, mau bagaimana lagi, badai tadi akibat terjangan ekorku. Maaf Flavian,” katanya mengelus pipiku.
“Aku tidak punya banyak waktu, aku tidak bisa menjelaskannya disini. Maaf, kakak perempuanku ikut serta. Sebenarnya kami akan ke dimensi sihir,” kataku perlahan agar Sealy tak salah paham.
“Sebelumnya aku tak tahu kalau keluargaku adalah penyihir. Apakah kita dapat bertemu lagi di dimensi sihir?” tanyaku pada Sealy.
Sealy hanya terpaku diam menatap Key, matanya membiru bercahaya, kemudian kembali lagi menjadi jingga, sepertinya ia sedang membaca hati Key. Seperti yang ia lakukan saat pertama kali ia bertemu denganku.
Sealy tersadar dari lamunannya. “Oh, a-aku mengerti, aku bisa membaca pikiranmu. Aku akan berusaha menembus dimensi sihir, jangan khawatirkan aku.” Jawab Sealy menyunggingkan senyumnya. Tapi senyumannya terlihat tidak tulus dan aneh. Ada apa dengannya?
“Bagaimana kau bisa membaca pikiranku?” Tanyaku heran. “Karena kau memakai kalung kerang itu.” Kata Sealy menatap mataku tajam.
“Flavian! Mereka datang! Cepat keluar dari sana!” teriak Key kemudian ia menarikku keluar dari laut. Dan ketika aku menoleh ke belakang, Sealy sudah lenyap.
Bibi Bertha berlari kearah kami sambil mengangkat roknya. Dia menatap kami dengan tatapan marah, Paman Frederick memegang bahunya, dan seketika Bibi Bertha menjadi rileks dan tersenyum kepada suaminya.
“Anak-anak! Kemana saja kalian?! Mereka sedang menunggu kita!” kata Bibi Bertha tersengal-sengal.
“Para Horsetrain itu tak suka menunggu, kita bisa ditinggal, ayo cepat masuk ke dalam gua!” ucap Paman Frederick santai.
Tanpa berpikir lagi aku dan Key berjalan tergesa-gesa menuju gua. Disana ada enam Horsetrain yang sedang marah menunggu kami. Tubuh bagian bawahnya terdapat kaki kuda dilapisi sirip ikan yang kecepatan dalam dan luar air sangat luar biasa, badan mereka berbentuk paus pembunuh, tubuhnya menyatu dalam kereta. Mereka menunjukan taringnya kepada kami.
Paman Frederick angkat bicara, “Teman lamaku, tenanglah. Anak-anak ini hanya bermain pasir, ayo kita mulai pejalanan ini!” Paman Frederick menepuk punggung ketua Horsetrain dan seketika Horsetrain itu menjadi tenang.
“Ayo sayang, angkat kopermu kedalam kereta itu!” kata Bibi Bertha riang.
Aku membantu Key mengangkat kopernya. Dan memasukan koper kami ke sebuah kereta kuda tanpa atap, sungguh aneh.
“Ayo, bung ! cepatlah naik!” kata salah satu Horsretrain marah sambil mengeluarkan air ludah. Cara mereka berbicara seperti berkumur, jadi terdengar seperti ini, “Ayyho, bbrruuung! Eppalah nahiik !”
“Dasar kuda bau bodoh!” umpat Key pelan. Seketika semua Horsetrain menoleh.
“Hati-hati dengan ucapanmu, Key.” Ucapku takut. Aku langsung menarik Key ke kereta dan tersenyum pada Horsetrain, seperti biasa mereka terhanyut oleh senyuman andalanku tadi.
Aku dan Key duduk berhadapan dengan Paman Frederick dan Bibi Bertha yang sedang berpegangan tangan. Paman Frederick memberikan kantung plastik pada kami.
“Untuk apa ini?” Tanyaku heran.
“Nanti akan berguna untuk kalian, jagalah baik-baik.” Jawab Paman Frederick sambil tersenyum geli.
“Oke, anak-anak! Perjalanan ini pasti menyenangkan!” kata Bibi Bertha penuh semangat.
“Ayo kita mulai, My Man!” teriak ketua Horsetrain.
Kereta yang kami naiki mulai ditarik oleh Horsetrain memasuki laut . Laut? Tunggu dulu, kereta ini kan tak punya atap!
Begitu memasuki laut ketua Horsetrain meminum segelas Coke dan mereka bersendawa, dari mulutnya mengeluarkan gelembung yang sangat besar dan membungkus kami beserta kereta. Gelembung itu membuat kami bernapas dalam air, keren tapi menjijikan.
“Kenapa mereka memakai Coke? Apakah tidak ada sihir lain?” Tanya Key jijik.
Paman Frederick tersenyum jahil, “Sebenarnya ada ramuan khusus, tapi bahan-bahannya sulit didapat dan juga harganya selangit. Kebetulan manusia menciptakan barang bagus dan murah seperti Coke ini, para Horsetrain pun menyukai rasanya. Jadi apa ruginya?”
Yang benar saja, masa penyihir memakai barang ciptaan manusia? Tidak keren, batinku. Paman Fredik melirikku seakan ia membaca pikiranku.
Para Horsetrain bersorak dan mulai menerjang lautan, menajubkan! Aku bisa melihat kehidupan dalam air!
“Yeah! Ini yang aku tunggu! Ayo mulai!” kata Bibi Bertha berteriak sambil bertepuk tangan.
Bibi Bertha adalah orang yang energik, Paman Frederick hanya menatapnya bahagia, mungkin ia pernah melihat Bibi Bertha lebih gila dari pada ini.
Tiba-tiba kecepatan kami bertambah, rasanya seperti naik rollercoaster tercepat di dunia, tapi yang ini lebih cepat. Dunia seakan berputar tak karuan aku hanya bisa melihat Paman Frederick yang duduk tepat di depanku. Seketika aku tak sadarkan diri, aku lupa aku dimana, siapa diriku, dan untuk apa disini. Tapi seseorang mencengkram tanganku kuat, dan membuat aku tersadar. Itu Paman Frederick yang menggenggam tanganku dan Key agar kami tetap tersadar.
Perutku seperti dikocok, aku menatap Key, wajahnya sudah membiru. Makan malamku naik ke kerongkonganku. Bibi Bertha hanya tersenyum ceria. Paman Frederick hanya duduk tenang tanpa ekspresi. Aku ingat plastik yang diberikan Paman Frederick. Aku segera mengeluarkannya dari saku. Dan aku muntah. Sekarang aku tahu kegunaan kantung plastik itu.
Paman Frederick menatapku sambil tersenyum geli. Key mengikuti caraku tadi, tapi ia melakukan lebih ekstrim. Dia muntah gila-gilaan. Mengerikan.
Sepersekian detik berlalu, kami telah sampai di sebuah pelabuhan penyihir. Pelabuhan itu terlihat seperti pelabuhan manusia biasa, orang-orang sibuk berlalu-lalang, ada yang akan berangkat, dan juga ada yang baru datang. Banyak penyihir yang seusia kami, namun mereka sudah mahir, aku pesimis kalau aku dan Key bisa mempelajari sihir dalam waktu singkat. Apalagi Key lusa berumur delapan belas tahun. Waktunya ia mempunyai naga.
Salah satu Horsetrain mendatangiku. Mengendus bauku seperti anjing, dan ia mengernyit jijik.
“Anak muda, siapa namamu? kau berbau laut. Pesanku jangan sekali-kali mempercayai kaum lautan,” ia terdiam sebentar, “Kebanyakan kaum laut yang berbahaya itu menawan, ku harap kau bisa bersikap bijaksana.” Kata ketua Horsetrain.
“Aku Flavian Ellanoer, apa maksudmu? Bagaimana kau tahu?! Kau kan juga kaum laut?”
“Oh, keluarga Ellanoer yang terkenal itu, ya? Hah, sudahlah aku tak peduli! Asal kau tahu, kami bukan kaum laut yang menawan, pikirkan itu baik-baik.” Ia tersenyum dan menunjukkan gigi yang penuh karang, ya, maksudku karang koral yang berada di dasar laut. Lalu ia memberi aba-aba kepada Horsetrain lainnya dan berenang menuju lautan luas.
“Apa yang ia bicarakan?” Tanya Key tiba-tiba.
“Entahlah,” kataku ragu, “Nanti aku ceritakan.”
“Oke, ini kopermu, ayo cepat! Bibi sedang menunggu kita,” ucap Key sambil memberikan koperku.
“Ayo, guys! Kita akan menuju gerbang para Penyihir!” ucap Bibi Bertha menarik kami.
Key menoleh bingung seakan mencari seseorang, “Hm, Bibi, dimana Paman?” Baru kusadari Paman Frederick tidak bersama kami.
“Dia akan mengadakan rapat penting, jadi dia ke pusat kota dahuluan,” raut wajah Bibi Bertha berubah, tapi tetap mencoba tersenyum ceria.
Bibi Bertha melangkah maju mendahului kami, kami langsung mengikutinya dari belakang.
Dunia sihir begitu menajubkan, andai Mom ada disini, semuanya akan lebih baik. Jujur, aku tidak suka sihir. Aku sudah capek dengan semua omong kosong ini. Aku tidak peduli meski keturunanku adalah penyihir hebat, contohnya Dad. Setiap orang memuji Dad tapi mereka juga menjelek-jelekannya di belakangku.
Bertemu dengan Dad saja tidak pernah, tetapi Mom selalu berpesan untuk tidak membencinya. Apakah aku bisa mencintai orang yang mencampakan aku? Mana mungkin, aku benar-benar tidak peduli pada Dad. Seberapapun Dad mencintaiku, aku tetap tidak peduli, karena semuanya sudah terlambat.
Sekarang kami sampai di sebuah gerbang yang sangat besar tebuat dari kayu, sepertinya itu bukan kayu biasa. Setiap penyihir yang memasuki gerbang itu, gerbang itu akan bercahaya.
“Asal kalian tahu anak-anak, gerbang ini akan menilai kekuatan sihir kalian,” kata Bibi Bertha memecah kesunyian.
“Maksud Bibi?” tanyaku.
“Setiap penyihir yang melalui gerbang ini, maka gerbang inipun akan berubah bentuk sesuai kekuatan penyihir tersebut,” kata Bibi, “Ayo masuk anak-anak! Kita coba seberapa besar kekuatan sihir kalian,” Bibi Bertha langsung menarikku menuju gerbang.
“Kau dulu, Flavian!” kata Bibi sambil mendorongku memasuki gerbang.
Kalian tahu apa yang aku lihat begitu memasuki gerbang itu? Biasa saja, tidak ada istimewanya. Bahkan aku tidak melihat adanya gerbang. Ya, tidak ada gerbang, mungkin itu berarti kalau kekuatan sihirku SANGAT di bawah rata-rata. Malangnya nasibku.
Setelah melewati gerbang itu, aku sampai di dunia sihir sungguhan. Aku berada dunia yang benar-banar manajubkan. Tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Aku berada di tengah jalan dan dikelilingi para penyihir, suasananya gothic seperti ketika pesta hallowen namun tetap ceria. Semua anak-anak penyihir terbang menunggangi naganya sendiri, yang belum mempunyai naga mereka menggunakan sayap palsu di punggung mereka dan saling mengejar. Aku mulai bersemangat dan merasa kekuatanku berlipat ganda. Aku jadi ingin mencoba hal-hal menajubkan lainnya. Aku ingin menceritakan ini pada Mom.
Tiba-tiba seseorang menabrak ku dari belakang, oh, ternyata itu Key. Bikin kaget saja, padahal aku sedang menikmati pemandangan ini.
“Aduh! Flavian, jangan di tengah jalan dong…” teriak Key.
Key benar-benar berjiwa cowok tetapi bertubuh cewek, sifatnya seperti cowok, selalu main dengan anak laki-laki. Tapi kecantikannya menutupi hal itu. Sebenarnya Key itu lebih gila dari pada Bibi Bertha, tetapi jika di depan orang asing ia selalu menyembunyikan sifatnya.
Setelah Key melalui gerbang, keluarlah Bibi Bertha sambil menyengir ceria. Dia menghela napas dan memandang kami lekat-lekat.
“Nah, bagaimana anak-anak? Di mulai dari Key, apa yang kau lihat?” cerocos Bibi Bertha.
“Aku melihat gerbang itu megah dengan tiang yang kokoh, berwarna perak, mungkin itu terbuat dari besi,” jawab Key.
“Wow! Hebat! Kau sangat berbakat dalam sihir, dan jika terbuat dari besi berarti kau mahir dalam sihir pertahanan dan penyerangan! Kau wanita kuat! Cocok untuk situasi duel maut!” kata Bibi Bertha berbinar-binar sambil menepuk pundak Key, Key hanya menyengir bingung.
“Dan kau Flavian?” Tanya Bibi Bertha.
“Tidak ada yang istimewa, biasa saja. Bahkan aku tak melihat gerbang. Yang aku lihat adalah gerbang tanpa tiang! Konyol sekali,” kataku dengan nada malas.
Bibi Bertha kelihatan syok, ia hanya berdiri diam tanpa kata-kata, wajahnya mengerikan. Dia seperti baru melihat hantu. Benar-benar aneh ekspresinya. Dia orang yang tidak bisa ditebak.
“Hm, Bibi? Ada apa?” kataku bingung dan aku melirik Key, Key menggelengkan kepalanya. Dan aku menggoyangkan tubuh Bibi Bertha. Bibi Bertha menggelengkan kepalanya, dan tersenyum lemah.
“oke, sebaiknya kita langsung menuju kastil. Aku punya banyak kejutan untuk kalian!” bibi Bertha kembali ceria kemudian berjalan mendahului kami. Kami mengikuti dari belakang dengan tergesa-gesa.
Bibi Bertha langsung melewati gerbang tanpa berkata apa-apa. Aku melangkah ragu-ragu ketika melewati gerbang itu. Key dan Bibi Bertha telah mendahuluiku. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk kabur. Oh, jangan bodoh Flavian! Aku mengikuti Key tanpa berpikir lagi.
Kakiku melewati gerbang terasa sensasi sengatan listrik aneh menjalar sekujur tubuhku. Tanpa mempedulikannya aku tetap berjalan memasuki gerbang itu, sehingga sampailah pada sebuah kota aneh era 80-an. Orang-orang berlalu lalang mengenakan jubah berwarna-warni.
“Kalian akan segera bertemu saudara-saudara kalian! Bersiaplah!” Bibi Bertha melompat-lompat aneh. Wah, perasaanku tidak enak.
Pintu kastil terbuka dengan sendiri. Sebuah gelas kaca melayang di atas kepalaku. Teriakan mengerikan terdengar dimana-mana. Aku mendelik ketakutan, perlahan aku melirik Key. Wajahnya begitu santai, dia bersiul sambil memperhatikan perabotan dalam kastil itu. Tuhan, mengapa kau memberikan cobaan aneh padaku? Apakah aku pernah berbuat salah?
“Begitu riang seperti biasanya!” Bibi bertha menoleh padaku dan tersenyum. Tunggu dulu, riang? Seperti biasanya? Benar-benar kebiasaan buruk.
Kami memasuki kastil itu, di kanan-kiri kami terdapat jendela-jendela besar dan jendela itu tampak bersih terawat. Kastil ini tak seperti bayanganku sebelumnya, yaitu kastil yang kelam penuh hantu bergentayangan. Tapi ternyata kastil ini begitu indah, jika kau melihat dari jendela akan tampak taman yang selalu di rawat, bunganya bermekaran, dan hewan-hewan yang tidak pernah aku lihat di dunia manusia.
Sepertinya Bibi Bertha menyukai warna ceria, kastil ini di cat dengan warna-warna alam, seperti biru laut, hijau daun, dan warna pelangi. Di atapnya dipenuhi lukisan-lukisan ala itali, ada yang menggambarkan awan, malaikat-malaikat kecil, dan ramalan-ramalan aneh.
Kami melewati lorong yang dipenuhi guci cina. Atapnya berlukis awan. Mungkin aku akan betah disini. Setelah melewati lorong itu kami sampai di ruang makan. Sekarang sudah lewat jam makan, tetapi di sana sudah ada empat remaja yang sedang memporak-porandakan meja makan.
Dari pintu sebelah utara keluar wanita kurcaci gendut sambil membawa sendok sup. Dia memakai gaun pelayan yang sudah usang akibat peperangan di meja makan tersebut.
“Bisakah kalian makan secara normal?!” teriak kurcaci itu. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiran kami.
“Ceria seperti biasanya!” teriak Bibi Bertha. Dengan sekejap semua pandangan menuju Bibi Bertha. Keempat remaja dan ibu kurcaci tadi langsung berlari mendekati Bibi Bertha dan membuat barisan. Semua tersenyum kepadaku dan Key.